Bali Mester, Berawal dari Permukiman Orang Bali Tertua Namun Tak Ada Pura

oleh
Vihara Amurva Bhumi, Kantor Kelurahan Bali Mester dan Pasar Mester Regional Jatinegara.

JAKARTA, REPORTER.ID- Nama kampung di Jakarta banyak diambil dari nama daerah asal warga yang pertama banyak bermukim di tempat itu sejak zaman VOC sampai zaman kolonial Belanda. Sebut saja Kampung Jawa, Kampung Bandan, Kampung Ambon, dan Kampung Bali.

Dari beberapa kampung yang menyandang nama Kampung Bali sejak abad ke-17 dan abad ke-18 , Kampung Bali Mester di Kecamatan Jatinegara merupakan permukiman orang Bali tertua.
Menurut Buku Asal Usul Nama Tempat di Jakarta terbitan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta tahun 2004, Bali Mester tercatat sebagai perkampungan orang-orang Bali sejak tahun 1667. Buku tersebut berisi tulisan hasil penelusuran dan penelitian tahun 2000-2003 oleh Bidang Pengkajian dan Pengembangan Dinas Kebudayaan DKI yang ditangani Arkeolog Husnison Nizar.

Gereja GPIB Koinonia dan Patung Perjuangan Rakyat Jatinegara

Kampung Bali lainnya menurut buku itu adalah Kampung Bali Krukut di sebelah barat Jalan Gajahmada Jakarta Barat sekarang, baru ada pada zaman Gubernur Reinier de Klerk (1777-1780). Sedang Kampung Bali Angke kini menjadi Kelurahan Angke, mulai dihuni orang orang Bali tahun 1709 yang dipimpin Gusti Ktut Badulu.

Kembali ke Kampung Bali Mester, menurut sejarahnya memang bagian dari wilayah yang disebut Mester Cornelis yang pada awal zaman Jepang tahun 1942 diubah namanya menjadi Jatinegara.

Bansos dari Gubernur DKI untuk 2.719 KK warga Bali Mester

Nama Meester Cornelis sendiri mengacu pada seorang bernama Cornelis Senen, seorang pria kaya asal Pulau Lontor, Banda, Maluku yang bermukim di Batavia sejak tahun 1621. Di sini Cornelis menjadi guru agama Kristen, membuka sekolah, dan memimpin peribadatan dengan berkhotbah dalam Bahasa Melayu dan Portugis. Jabatan sebagai guru itulah membuat ia mendapat ‘gelar’ Meester.

Pada gilirannya perkampungan orang Bali itu disebut Bali Mester. Pasar yang dibangun di situ pun dinamakan Pasar Mester yang kemudian berkembang menjadi Pasar Regional Jatinegara, yang dikelola oleh PD Pasar Jaya, BUMD milik Pemprov DKI Jakarta. Nama Pasar Mester masih dilestarikan sampai sekarang.

Dari penelusuran di lapangan, di wilayah Kelurahan Bali Mester tidak ditemukan adanya bekas pura tempat persembahyangan umat Hindu Bali. Yang ada malahan Vihara Amurva Bhumi yang diperkirakan sudah berumur lebih 330 tahun dan Gereja GBIP Koinonia di pertigaan Jalan Matraman Raya dan Jatinegara Barat yang dibangun tahun 1889.

“Gereja itu setahun lalu sudah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) setelah dilakukan pengkajian dua tahun lalu bersama bangunan lainnya di sekitar Kecamatan Jatinegara,” kata Arkeolog Candrian Attahiyat kepada Reporter.id, Minggu (26/7/2020).

Bangunan lainnya yang dikaji menurut Candrian adalah SMP Negeri 14 Jakarta atau SMP Merdeka di Jalan Matraman Raya masih kekurangan data. Untuk Setasiun Jatinegara telah dinyatakan layak sebagai BCB karena memiliki nilai sejarah arsitektur kolonial.

Penanda kawasan Bali Mester yang monumental ya Pasar Mester itulah yang telah ratusan tahun menjadi jantung perekonomian Jakarta Timur. Namun yang benar-benar dibangun sebagai monumen, baru berdiri tahun 1982, yaitu Patung Perjuangan Rakyat Jatinegara di ujung utara wilayah Kelurahan Bali Mester. Patung bapak dan anak berkalung ketapel, bagaikan menyambut orang orang yang datang dari arah utara. Wilayah Bali Mester berbatasan dengan Kampung Melayu di sebelah barat. Dengan sendirinya tidak jauh dari aliran sungai Ciliwung.

Lurah Bali Mester Nugroho Mas Bawono ketika dihubungi Reporter.id pekan lalu menjelaskan luas wilayah Bali Mester 63,37 hektar yang terbagi dalam 6 RW dan 73 RT. Jumlah penduduknya saat ini 4.193 KK atau 11.695 jiwa.

Senin (27/7/2020) bantuan sosial dari Gubernur DKI untuk warga terdampak pandemi Corona di Bali Mester telah datang. “Ada 2.719 KK yang berhak mendapatkannya,” kata Ayu Sulasini, Kepala Seksi Kesra dan Ekonomi Kelurahan Bali Mester.

Mengkilas balik Bali Mester ke kurun waktu lebih tiga abad silam tidaklah mudah bila mengandalkan budaya tutur saja. “Orang tertua di Bali Mester baru saja meninggal dunia,” kata Lurah Nugroho.

Tahun 1991 Pasar Mester atau Pasar Jatinegara yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari aliran Ciliwung itu dilanda kebakaran besar. Peristiwa ini sulit dilupakan oleh penulis karena terjadinya malam hari saat penulis pulang kerja dari kantor Harian Berita Buana yang kala itu di Jalan Warung Buncit Raya Jakarta Selatan.

Sekitar pukul 21.40 Mikrolet 16 dari terminal Pasar Minggu sampai terminal Kampung Melayu. Oper ke Mikrolet 27 ke jurusan Pulogadung namun iringan kendaraan bermotor di Jalan Jatinegara Barat tak bergerak terhalang penutupan jalan sekitar pasar untuk operasi pemadaman api. Lalulintas dialihkan.

Sebetulnya saya sudah capek dan ngantuk. Tetapi sebagai wartawan saya turun dan mencari telepon umum lapor ke kantor untuk dikirim fotografer. Saya mendekat ke mobil Damkar di kerumunan petugas dan masyarakat yang menonton untuk mencari informasi dan melaporkannya ke redaktur. Esok harinya tiap harian memuat berita tersebut termasuk Berita Buana.

Diduga penyebab kebakaran adalah korsleting listrik. Pada pekan berikutnya ratusan pedagang Jatinegara yang kiosnya hangus ditampung di deretan kios sementara di atas jalan Bekasi Barat Raya dari depan kantor Eks Kodim 0505 sampai standplat Bogor. Itu berlangsung untuk beberapa bulan sampai pasarnya selesai dibangun kembali.

Benarlah kata pepatah Latin yang berbunyi Historia vitae magistra. Artinya : Sejarah merupakan guru kehidupan. Sudahkah kita belajar darinya? Nyatanya denyut nadi ekonomi cukup terasa keras di kawasan ini. Ditambah fasilitas terminal bus Kampung Melayu yang memang berada di wilayah Kelurahan Bali Mester dan stasiun KA Jatinegara dengan jaringan Commuter Linenya, roda ekonomi kawasan ini berputar lancar dan meyakinkan hingga sekarang. Ke depan kita harapkan juga demikian. Semoga. (Suprihardjo).

Tentang Penulis: hps

Gambar Gravatar
Wartawan senior tinggal di Jakarta. hps@reporter.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *