Antara Reshuffle Kabinet dan Sabdo Pandito Ratu

oleh
oleh
Presiden RI, Joko Widodo.

Kemudian pada Januari 2018, Presiden Jokowi lagi-lagi lakukan reshuffle kabinet. Kali ini Partai Golkar yang mendapat rejeki nomplok. Idrus Marham yang saat itu menjabat Sekjen Golkar diangkat jadi Menteri Sosial (Mensos) menggantikan Khofifah Indar Parawansa yang mengundurkan diri dari Kabinet Jokowi setelah memutuskan maju sebagai Cagub Jatim.

Satu lagi yang diangkat Jokowi menduduki jabatan setingkat menteri, yakni mantan Panglima TNI, Moeldoko siangkat menjadi Koordinator Staf Khusus Presiden menggantikan Teten Masduki.

Tujuh bulan berikutnya yakni pada 15 Agustus 2018, Presiden Jokowi kembali lakukan pergantian menteri lagi. Kader PAN di kabinet, Asman Abnur mundur dari jabatan Menteri PAN-RB sebagai konsekuensi PAN tidak mendukung Jokowi dalam Pilpres 2019. Sebagai penggantinya, Jokowi mengangkat Wakil Kapolri, Komjen Syafruddin menempati kursi Men-PAN-RB yang ditinggalkan Asman Abnur.

Jokowi juga mengganti jabatan Mensos yang baru. Idrus Marham yang saat itu terseret jadi tersangka kasus korupsi PLTU Riau-1 mengundurkan diri dan jabatannya diisi kader Golkar yang lain yakni Agus Gumiwang Kartasasmita.

Kapankah Jokowi lakukan reshuffle kabinet? Sepertinya tinggal tunggu waktu saja. Hanya Allah SWT dan Jokowi yang tahu itu. Jokowi sudah menyampaikan sinyal yang terang soal ini. Secara tidak tersamar sudah disebut kementerian yang penyerapan APBN-nya rendah, kementerian yang tidak sigap menyalurkan bansos padahal rakyat sudah sangat membutuhkan. Bersiap-siaplah, paling tidak menyiapkan mentalnya supaya tidak kaget.

Akan lebih gentle dan terhormat bila mereka melempar handuk. Jangan menunggu diberhentikan karena hal itu sangat tidak mengenakkan. Ada satu pertanyaan yang menggelayut di benak di balik kunjungan Presiden Jokowi ke Surabaya dan Banyuwangi yang waktunya sesudah sidang kabinet tanggal 18 Juni 2020?
Tampaknya Jokowi mulai kesengsem terhadap kinerja Bupati Banyuwangi Azwar Anas yang cukup spektakuler, sehingga tanpa disadari Presiden menyampaikan ‘sanjungan’ kepada pemimpin muda yang sebentar lagi lengser keprabon dari jabatan Bupati Banyuwangi.

Begitu juga dengan Tri Rismaharini yang baru-baru ini menangis dan bersujud saat audensi dengan Pengurus IDI Jatim karena upayanya membangun komunikasi dengan pihak Pimpinan RSUD dr. Soetomo Surabaya mengalami kegagalan alias tidak mendapat tanggapan. Diakui atau tidak, Risma punya segudang prestasi yang patut dibanggakan.

Apakah setelah keduanya tidak menjabat lagi akan ditarik ke Jakarta? Tidak ada yang tahu. Siapa saja yang akan diajak Jokowi menjadi pembantunya di cabinet dan kapan itu dilakukan, tidak ada yang tahu. Tanyakan saja sama Presiden karena hak prerogatif melekat padanya. ***

* Penulis adalah mantan wartawan senior Koran Rakyat Merdeka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *