Kamis 11 Juni 2020 : Rame-rame Tolak Pilkada Serentak 9 Desember

oleh
oleh
Pimpinan Komite I DPD RI (SERAMBI)

21. Cendekiawan muslim Nasaruddin Umar mengatakan perlunya pendekatan holistik dalam mencegah perkembangan paham radikal. Dia menyebut radikalisme berkembang karena adanya ketimpangan antara kaum kaya dan kaum miskin.
“Perlu pendekatan holistik. Bagaimana menciptakan perekonomian yang tidak melahirkan satu ketimpangan, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Secanggih apa pun BNPT, kalau jarak si kaya dan si miskin menganga, tidak mungkin bisa mencegah berkembangnya radikalisme. Radikalisme itu kan juga masalah urusan perut ya kan,’’ ujarnya di kantor BNPT, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (10/6).

22. Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar menyebut pelibatan tokoh agama dan ulama dalam pencegahan radikalisme sangat penting. Boy menilai tindakan radikalisme saat ini masih memakai simbol keagamaan, karenanya ia ingin para ulama meluruskan pemikiran yang salah tersebut. Menurutnya, ulama adalah penangkal pemikiran radikal yang mengatasnamakan agama.
“Kita juga tentu berupaya agar pelibatan dari tokoh-tokoh agama dan ulama moderat untuk dapat melakukan upaya membantu kita bersama-sama agar pemikiran yang mengarah kepada kekerasan yang dianut anak-anak muda dengan mengatasnamakan agama ini bisa diluruskan,” kata Boy di kantornya, Rabu (10/6).

23. Epidemiolog dari Universitas Indonesia menganalisis, lonjakan wabah corona di DKI Jakarta disebabkan efek aktivitas lebaran hingga euforia yang timbul akibat pengumuman masa transisi PSBB oleh Gubernur Anies Baswedan.
Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, Tri Yunis Miko Wahyono, menjelaskan, rekor 239 kasus baru Corona di Jakarta yang terjadi pada Selasa (9/6) karena aktivitas warga Jakarta yang keluar rumah dan berinteraksi saat lebaran kemarin. “Saat dua hari masa Lebaran, banyak orang di Jakarta keluar rumah,” kata Tri, Rabu (10/6).

24. Kementerian Luar Negeri masih mendalami kasus dua WNI ABK yang melompat dari kapal China di Selat Malaka. Kemlu menggandeng Polri untuk mengusut kasus ini. Kemlu jua membenarkan ada WNI yang dideportasi dari Korea Selatan karena melanggar aturan karantina. WNI bersangkutan ditangkap 30 Mei lalu dideportasi ke Indonesia sehari setelahnya.

Isteri ABK yang melompat dari kapal Cina, Fenny Susanti mengatakan suaminya dijanjikan bekerja di Korea dan dimintai uang sebesar Rp 50 juta. Ia menuturkan Andri, suaminya awalnya dijanjikan untuk bekerja di daratan Korea, tetapi malah ditempatkan untuk bekerja di kapal.
“Pertama-tama saya menceritakan kejadian Mas Andri berangkat ke Korea yang sebenarnya dijanjikan berangkat Korea, tapi malah dialihkan bekerja di kapal laut. Awalnya, Mas Andri kenal dengan temannya yang diperkenalkan dengan yang namanya Pak Safrudin,” kata Fenny dalam diskusi virtual bertajuk ‘Mengungkap Kejahatan Perdagangan Orang dan Kerja Paksa Pada Industri Perikanan Tangkap’, kemarin.

Sebelumnya, dua orang WNI ABK Kapal China Fu Lu Qing Yuan Yu berhasil kabur –karena disiksa dan diperbudak atasannya — berkat bantuan WNI lain yang memata-matai kamar nakhoda kapal. Kedua ABK itu adalah AJ (30) dan R (22), ditemukan nelayan binaan Direktorat Polisi Air (Ditpolair) Polda Kepri, Tengky Azahar tengah mengambang di laut lepas dan meminta pertolongan. “Selama bekerja di atas kapal, terjadi kekerasan, istirahat serta makan tidak cukup, sehingga para pekerja asal Indonesia itu tidak betah bekerja,” kata Direktur Polisi Air Polda Kepri, Kombes GR Gultom, akhir pekan lalu.

Tentang Penulis: hps

Gambar Gravatar
Wartawan senior tinggal di Jakarta. hps@reporter.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *